Kenapa Mobil Listrik Lebih Tahan Banting Dibandingkan Mobil Bensin?
15 April 2025
Artikel dari InsideEVs mengulas studi terbaru oleh ADAC, klub otomotif terbesar di Eropa, yang membandingkan keandalan mobil listrik (EV) dengan mobil bermesin pembakaran dalam (ICE). Data diambil dari panggilan bantuan pinggir jalan untuk mobil keluaran 2020-2022, memberikan gambaran tentang performa kendaraan modern.
Mobil listrik mencatatkan angka kerusakan yang jauh lebih rendah, hanya 4,2 per 1.000 kendaraan, dibandingkan 10,4 untuk mobil bensin atau diesel. Ini masuk akal karena EV punya komponen lebih sedikit—tanpa rantai distribusi, busi, atau oli mesin yang sering bermasalah. Sistem yang lebih sederhana berarti lebih sedikit peluang untuk kerusakan, membuat EV jadi pilihan menarik bagi yang mengutamakan keandalan.
Namun, ada satu masalah yang menghantui kedua jenis kendaraan: baterai 12V. Komponen ini, yang mengurus sistem kelistrikan dasar seperti lampu dan komputer kendaraan, ternyata penyebab utama kerusakan baik pada EV maupun ICE. Untungnya, ini bukan masalah besar seperti kegagalan baterai utama EV, dan bisa diatasi dengan perawatan sederhana atau penggantian murah. Fakta bahwa baterai 12V jadi kelemahan utama menunjukkan bahwa teknologi EV tidak serumit yang dibayangkan banyak orang.
Meski EV secara umum unggul, ada pengecualian. Hyundai Ioniq 5, misalnya, mencatatkan 18,3 kerusakan per 1.000 kendaraan untuk model 2021, jauh di atas rata-rata EV lainnya. Ini mengejutkan mengingat popularitasnya, dan menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kualitas antar merek. Tapi, angka ini tidak mengubah fakta bahwa secara keseluruhan, EV lebih tahan banting.
Data ini penting bagi siapa saja yang sedang mempertimbangkan mobil baru. Kekhawatiran soal biaya perbaikan EV, terutama baterai utama, ternyata berlebihan untuk mobil berusia muda. Tapi, ADAC mencatat bahwa studi ini hanya mencakup mobil baru. Bagaimana EV bertahan setelah satu dekade masih belum jelas, karena teknologinya relatif baru.
Bagi konsumen, studi ini menegaskan bahwa EV tidak hanya hemat energi dan ramah lingkungan, tapi juga lebih andal di tahun-tahun awal. Namun, jangan abaikan perawatan baterai 12V—komponen kecil yang bisa bikin repot jika diabaikan, baik di EV maupun mobil bensin.
Ke depannya, dengan perkembangan teknologi, masalah seperti baterai 12V mungkin akan semakin jarang. Produsen kini tahu titik lemah ini, dan inovasi bisa segera menyelesaikannya. Sementara itu, untuk penggemar mobil ICE, data ini jadi pengingat bahwa mesin tradisional punya lebih banyak bagian yang berpotensi rusak, dari transmisi hingga sistem bahan bakar.
Studi ini membuktikan bahwa EV bukan sekadar tren, tapi pilihan yang kokoh untuk keandalan jangka pendek. Jadi, apakah kamu mulai melirik mobil listrik, atau masih nyaman dengan mesin bensin? Apa pun pilihannya, data ini memberikan alasan kuat untuk mempertimbangkan EV sebagai investasi yang lebih bebas masalah.
Sumber: insideevs.com