Kenapa Mobil Listrik Masih Mahal? Bongkar Rantai Produksi dan Impor Indonesia
24 July 2025
Mobil listrik semakin banyak diperbincangkan sebagai solusi transportasi masa depan yang ramah lingkungan. Namun, ketika melihat harga jualnya, banyak masyarakat langsung mengernyit. Meski pemerintah sudah memberikan berbagai insentif, sebagian besar mobil listrik di Indonesia masih dibanderol cukup mahal, bahkan melebihi harga mobil bensin kelas menengah. Mengapa bisa demikian?
Salah satu faktor utama adalah komponen baterai yang sangat mahal. Baterai lithium-ion yang digunakan pada mobil listrik menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total harga kendaraan. Indonesia memang memiliki cadangan nikel yang besar, tetapi belum mampu mengolahnya secara penuh menjadi baterai siap pakai. Akibatnya, produsen tetap harus mengimpor baterai dari luar negeri, yang tentu berdampak pada harga jual akhir.
Selain itu, produksi mobil listrik di Indonesia belum mencapai skala besar. Produsen seperti Hyundai dan Wuling memang sudah merakit mobil listrik secara lokal, namun jumlahnya masih terbatas. Skala produksi kecil berarti biaya per unit menjadi lebih tinggi karena tidak tersebar merata di banyak unit. Industri mobil listrik juga masih dalam tahap awal, sehingga belum efisien secara biaya.
Rendahnya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga menjadi penyebab. Banyak komponen penting seperti motor listrik, inverter, hingga sistem pendingin baterai masih berasal dari luar negeri. Karena masih tergantung pada impor, harga komponen naik akibat bea masuk, biaya logistik, dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ini membuat produsen kesulitan untuk menekan harga jual secara signifikan.
Tak hanya itu, biaya pengujian dan sertifikasi khusus untuk mobil listrik juga menambah beban biaya. Mobil listrik memerlukan pengujian tambahan seperti keamanan baterai, ketahanan arus listrik tinggi, dan lainnya. Karena fasilitas uji tersebut belum banyak tersedia di Indonesia, banyak produsen harus melakukan pengujian di luar negeri yang tentu memakan biaya lebih besar.
Dari sisi insentif, memang ada bantuan langsung tunai dan pembebasan pajak, namun belum sepenuhnya menjangkau semua jenis atau merek. Subsidi hanya berlaku untuk kendaraan yang memenuhi TKDN minimal 40%, sedangkan sebagian besar mobil listrik yang masuk ke Indonesia belum mencapainya. Akibatnya, banyak model yang tidak bisa menikmati potongan harga, sehingga tetap mahal di pasaran.
Secara keseluruhan, harga mobil listrik masih tinggi karena Indonesia belum memiliki rantai pasok yang lengkap dan efisien. Ketergantungan pada impor, minimnya produksi massal, serta infrastruktur industri yang belum matang membuat biaya produksi tetap besar. Namun, dengan adanya investasi pabrik baterai, peningkatan TKDN, dan pertumbuhan pasar EV, harga mobil listrik diperkirakan akan semakin terjangkau dalam beberapa tahun ke depan.