Mobil Diesel Sepi Peminat, Penjualan Kendaraan Listrik Seken Justru Meroket

20 May 2026

Pasar otomotif Tanah Air sedang mengalami perubahan tren yang cukup menarik. Minat masyarakat terhadap kendaraan listrik bekas dilaporkan terus meroket seiring dengan naiknya harga bahan bakar. Kondisi ini diamini oleh sejumlah pedagang yang melihat adanya pergeseran selera pembeli belakangan ini.

Penjual kendaraan bekas daring Fariz Czaesariyan menyebutkan bahwa lonjakan permintaan mobil listrik murni bekas terjadi sangat agresif. Menurutnya segmen mobil bebas emisi ini sedang digandrungi oleh banyak calon pembeli yang ingin berhemat biaya operasional harian. Di samping itu tingkat penyusutan harga jual kembali mobil listrik yang selama ini dikenal lumayan tinggi ternyata malah menjadi daya tarik besar karena harga sekennya menjadi jauh lebih ramah di kantong konsumen.

Fariz membeberkan bahwa unit mobil listrik bekas di rentang harga 120 juta hingga 180 juta rupiah kini paling banyak diburu. Kebanyakan dari pembeli tersebut meminang mobil ramah lingkungan ini untuk dijadikan sebagai kendaraan kedua di garasi rumah mereka.

Sayangnya manisnya pasar mobil listrik ini berbanding terbalik dengan nasib mobil konvensional khususnya yang bermesin diesel. Fariz mengakui bahwa penjualan mobil berbahan bakar fosil di kisaran harga 200 juta hingga 300 juta rupiah saat ini cenderung sangat sepi peminat.

Kelesuan pasar mobil konvensional juga sangat dirasakan oleh Juan Darmawan selaku pemilik diler Khayangan Garage. Ia mengungkapkan bahwa angka penjualan mobil bekas di tempat usahanya anjlok hingga empat puluh persen dibanding bulan bulan sebelumnya. Jika biasanya ia bisa melepas lima hingga delapan unit dalam sebulan kini bisa menjual empat unit saja rasanya sudah sangat berat.

Juan menegaskan bahwa mobil bermesin diesel menjadi segmen yang paling babak belur akibat imbas kenaikan harga bahan bakar. Walau begitu ia memaklumi kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang wajar terjadi. Ia juga menyadari bahwa saat ini masyarakat lebih memilih menahan pengeluaran demi memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok sehari hari ketimbang membeli kendaraan.