Penjualan Mobil Listrik Dunia Melejit, China Pimpin dengan Gaya
14 May 2025
Penjualan kendaraan listrik (EV) global terus menunjukkan pertumbuhan kuat di April 2025, dengan 1,5 juta unit terjual, naik 29% dibandingkan April 2024, menurut laporan Rho Motion. Angka ini membawa total penjualan tahun ini mencapai 5,6 juta unit, meski turun 12% dari Maret 2025 karena faktor musiman. China tetap menjadi penggerak utama, menyumbang porsi terbesar dengan model-model terjangkau dan teknologi canggih yang mendominasi pasar. Meski penjualan di China turun 9% dari bulan sebelumnya, pertumbuhan tahun-ke-tahun tetap impresif, didukung oleh banyaknya pilihan EV dengan harga kompetitif. Kunjungan ke Auto Shanghai 2025 mengungkap ragam model inovatif, mulai dari sedan hingga SUV, yang menawarkan fitur premium dengan harga yang sulit ditandingi.
Eropa juga mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 24% dibandingkan tahun lalu, dengan penjualan mencapai 0,4 juta unit di April. Negara seperti Jerman, Italia, dan Inggris memimpin, didorong oleh regulasi emisi yang ketat dan permintaan akan battery electric vehicle (BEV). Namun, Prancis mengalami penurunan akibat berkurangnya subsidi, terutama untuk plug-in hybrid (PHEV), yang anjlok hingga 47%. Sementara itu, Amerika Utara hanya tumbuh 5%, terhambat oleh kebijakan tarif baru di AS yang mengenakan pajak 25% pada impor mobil, termasuk dari Meksiko dan Kanada. Tarif ini, yang diberlakukan sejak April 2025, mengganggu rantai pasok dan berpotensi menaikkan harga EV di AS, di mana 39% EV yang dijual diimpor.
Tantangan global seperti ketidakpastian politik dan ancaman perang dagang tidak memperlambat laju adopsi EV. Di luar pasar utama, wilayah lain mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 37%, meski volumenya masih sekitar 0,5 juta unit. Data ini membantah anggapan bahwa minat terhadap EV sedang melemah. Sebaliknya, tren menunjukkan elektrifikasi transportasi terus berlanjut, didorong oleh inovasi teknologi dan kebijakan lingkungan. Di China, subsidi tukar tambah mobil diperpanjang hingga 2025, mendorong penjualan lebih lanjut. Sementara di Eropa, fleksibilitas baru dalam standar CO2 memberi ruang bagi produsen untuk memenuhi target emisi tanpa denda besar.
Masa depan EV terlihat cerah, dengan proyeksi penjualan global tetap kuat sepanjang 2025. Namun, tantangan seperti tarif impor, biaya baterai, dan infrastruktur pengisian daya harus diatasi untuk menjaga momentum. China, dengan dominasinya dalam produksi dan inovasi, kemungkinan akan terus memimpin, sementara pasar lain seperti Indonesia masih berjuang dengan keterbatasan infrastruktur. Dengan model-model baru yang terus bermunculan dan harga yang semakin kompetitif, adopsi EV global diperkirakan akan terus menanjak, mengubah lanskap otomotif dunia.
Sumber: https://electrek.co/2025/05/13/aprils-global-ev-sales-up-29-compared-year-ago-led-by-china/